Monday, May 6, 2013

Pengorbanan dan Cinta



    Hari itu gak sedingin biasanya. Sambil merapatkan jaketnya, Gita terus berjalan menembus salju yang tidak diduga turun hari itu. Apartemennya masih jauh dan hari sudah mau gelap, jalan menuju apartemennya pun sudah sepi, Githa yang memang takut sepi memepercepat langkahnya.
   Setelah berjalan cukup lama, Githa akhirnya sampai di depan bangunan putih apartemennya. sambil menghirup nafas lega Ia membuka pintu. Bangunan putih itu bukan seperti apartemen mewah yang ada di tengah kota yang menyuguhkan fasilitas lengkap dan pemandangan indah. Tempat itu hanya bangunan berlantai 4 dengan 4 kamar di setiap lantainya, fasilitas kamarpun hanya dilengkapi ruang tamu, 1 kamar dan satu kamar mandi yang sangat sederhana.
  Segera setelah menaiki tangga ke lantai 2, tempat kamarnya berada Ia membuka pintu, dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Hari itu sangat melelahkan baginya, Ia harus siaran selama 4 jam karena menggantikan temannya yang hari itu tiba-tiba tidak masuk. Studio Radio Remaja  itu memang terkenal, banyak acaranya yang disukai remaja, Gita mencintai pekerjaannya, Ia merasa beruntung bisa bekerja di salah satu radio terkenal di Jerman.
     Saat lelahnya sedikit hilang, Gita menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat, ia berharap sisa rasa lelahnya mengalir bersama air. Setelah merasa segar, Gita menuju dapur dan memanaskan lasagna yang dibuatnya tadi pagi. Ia melahapnya sampai habis, dan kembali lagi ke kasurnya untuk berbaring.
  Saat Gita hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Dengan malas Ia menuju pintu kamarnya.
  " hmm, I'm sorry for disturbing you"
  " oh, okay". Jawab Gita sambil berfikir siapa lelaki tinggi yang berada di hadapannya itu.
  " aku hanya ingin berkenalan, aku penghuni baru apartemen di depan ini. Namaku Cole, nice to meet you"
  " oh ya? namaku Gita, senang berkenalan denganmu juga Cole, semoga betah ya".
  " okay, thank you Gita"
  Malam itu, Gita tidak terlalu peduli siapa Cole yang menghuni apartemen depan rumahnya itu. Tapi Ia berharap setidaknya mereka bisa berteman. mengingat sedikitnya orang seumurannya yang tinggal di apartemen itu.


                                                   

  Pagi itu, Gita malas membuat kopi sendiri, jadi Ia pergi ke kedai kopi kesukaannya, itung-itung sambil jalan-jalan, mumpung Ia libur hari ini. Setelah mendapat secangkir cappucinno, Gita menuju bangku yang ada di taman dekat kedai itu. Sambil menikmati indahnya air mancur dan merpati berterbangan, Ia menikmati cappucinnonya. Saat ia meminum pelan-pelan cappucinnonya, ada seseorang yang mendekat, berdiri tepat di depannya. Gita mendongak dan mendapati orang itu tersenyum sangat manis padanya.
  " Hi Gita, gak nyangka bisa ketemu kamu disini, sama siapa?"
  " Oh, Hi Cole, aku sendiri aja, kamu ngapain disini?"
  " Take some pictures, I love this garden, boleh aku duduk di sini?"
  " Oh of course you may"
  Sepanjang hari itu, Gita dan Cole menghabiskan waktu bersama, mereka saling cerita mengenai diri masing-masing juga pekerjaannya, Gita sekarang tahu bahwa Cole adalah seorang fotografer sebuah majalah, Ia tinggal di Apartemen itu karena apartemen itu dekat dengan tempatnya bekerja. Gita menyukai gaya bicara Cole yang terbuka dan ceplas-ceplos tapi tetap terdengar sopan.
  2 Bulan berlalu, Gita dan Cole semakin dekat, mereka sering menghabiskan waktu bersama, entah pergi ke mall, jalan-jalan di taman, saling mengantar ke tempat kerja, atau bahkan menonton hanya DVD di apartemen.
  Setelah kehadiran Cole, Gita merasa hidupnya makin ramai dan berwarna. Ada saja yang Cole lakukan hingga Gita tertawa terbahak-bahak. Hari itu, mereka janjian untuk membuat kue tart untuk ulang tahun John, seorang kakek yang tinggal di lantai 1. Mereka menanggap John seperti kakek sendiri. Mereka berdua janjian membuat tart di apartemen Gita yang pasti lebih lengkap peralatan masaknya.
  Siang itu pukul 2, Cole mengetuk pintu kamar Gita, dan dengan semangat Gita membukanya. Mereka berdua membuat tart diselingi dengan canda tawa. Saat itu, gita sedang mengolah adonan di hadapannya dan Cole melihat ada tepung di dagu Gita.
  " Hey Gita, look at me"
  " Yes, what happen dude?"
 Cole mengusap tepung itu dengan lembut, Ia menarik dagu Gita ke atas, mendekat ke wajahnya.
  " Gita, you mean a lot for me, jangan pernah berubah ya, aku menyayangimu" Kata Cole sambil menatap mata Gita
  " Cole, what's your mean?"
  " You're the special one, babe".
  Malam itu, setelah perayaan ulang tahun kakek John. Gita berbaring di kasurnya dan memikirkan Cole. Ia memikirkan semua ucapan Cole tadi siang, jujur saat Cole menatapnya seperti itu, jantungnya berdegup kencang, dia merasakan getaran, entah getaran apa itu. Sebenarnya, akhir-akhir ini, Gita memang mulai berfikir kalau Ia menyukai Cole, tapi Ia singkirkan jauh-jauh pemikiran itu, Ia tidak ingin Cole menjauhinya.
  Saat Gita hendak terlelap, tiba-tiba handphonenya berbunyi
 " Yes, Hello?"
 " Gita, this is Cole, bisakah kamu keluar sekarang? aku menunggumu di depan apartemen"
 " Oh Cole, yes I can, wait me!"
 Cole mengajak Gita berjalan-jalan ke taman favorit mereka, mereka memesan burger dan memakannya sambil melihat langit yang terlihat sangat gelap malam itu. Mereka berbincang tentang apa saja, dan Gita selalu merasakan hal yang lain jika Cole berada di sampingnya. Ia merasa tenang. Saat mereka berjalan menyusuri jalanan Jerman yang dingin, tiba-tiba Cole menggenggam tangan Gita, ia memberikan selembar ketas.
 " Cole, what is it?"
 " Undangan ke pameranku, 2 hari lagi, datang ya. Hari ini aku mengajakmu, karena mungkin besok kita tidak bisa bertemu, aku sibuk dengan pameranku ini. Aku harap kamu datang, aku selalu menunggumu"
 " Cole, salahkah aku jika kukira, aku mulai menyukaimu?" Tanya Gita Lirih
 " Tidak ada yang salah, bahkan jika aku mulai menyukaimu pun, kita tidak salah, tidak ada yang salah dalam menyukai seseorang. Dan kau perlu tau, bahwa aku juga menyukaimu" Jawab Cole sambil tersenyum
" Ayo pulang, sudah malam, kau perlu istirahat." Sambung Cole
 Gita menutup pintu apartemennya, Ia sangat senang malam itu. Cole menyukainya, dan itu yang memang Ia harapkan.

  2 hari berikutnya, apartemen Cole terlihat sepi, Gita tersenyum melihat pintu apartemen di depannya itu. hari itu, Gita akan membuat cake berbentuk kamera, untuk kado Cole saat Ia datang ke pameran nanti. Gita sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk datang ke pameran Cole yang ternyata sangat besar, Cole ternyata adalah fotografer terkenal.

  Sore hari itu, Gita naik Taxi menuju tempat pameran Cole. Saat tiba disana, Ia melongo, pameran tersebut megah, dan banyak model-model cantik yang datang. Gita segera mencari Cole, dan menghampirinya. Saat Ia hampir di depan Cole, pembawa acara menyebutkan nama Cole untuk memberi sambutan. Cole menuju panggung dengan gagah, Ia mengenakan jas. Ia mengucapkan terimakasih untuk para undangan, dan Gita sempat terkejut saat Cole berkata:
 " Aku juga berterimakasih buat tunanganku Michele, yang selalu mendukung dan menyemangatiku, I love you."
 Saat itu, cake yang ada di tangan Gita terjatuh, semua memandang ke arah Gita. Gita tidak peduli, Ia segera lari. Bagaimana mungkin Cole tega kepadanya. Dibelakangnya, Cole terus mengejar.
 Saat Gita mulai lelah, ia jatuh dan menangis Ia muak dengan hari ini. Dan saat itu, lelaki tinggi itu memeluknya dari belakang
  " Gita, percayalah, aku menyukaimu, dan akan selalu seperti itu, tetapi aku tidak bisa melepas Michele, dia yang mendukung karirku, dan karenannya aku bisa seperti ini."
  " Lalu, mengapa kau tega seperti itu padaku, kau punya dia, wanita cantik yang selalu ada buatmu, kau tak pernah butuh aku. Apa salahku hingga kau tiba-tiba datang dan merusak hatiku? katakan padaku, apa aku pernah menyakitimu? mengapa kau berbohong?"
  " Gita, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu, dan aku tidak pernah berbohong. Aku menyukaimu, aku mencintaimu, dan memang begitu sebenarnnya."
  Michele yang mengikuti Cole dan Gita menghampiri Cole, dan melepaskan pelukan Cole.
 " Cole, aku tau mengapa kau berubah akhir-akhir ini, kau tidak punya waktu lagi untukku, aku menyayangimu sepenuh hatiku, aku selalu menginginkan kau bahagia. Pergilah dengan gadis ini jika kau mau, tak usah pedulikan aku, aku akan bahagia jika kalian bahagia.
Lalu Michele menoleh ke Gita
 " Kau, jaga Cole baik-baik, aku sudah bersamanya 2 tahun, aku tau dia pria baik, jangan pernah sia-siakan dia, aku tau dia sangat mencintaimu, dan aku tidak bisa melarangnya."
 " Misse, maafkan aku, aku sudah berusaha menahan rasa ini, tapi semua muncul begitu saja, tanpa ada yang menahannya, maafkan aku." Jawa Cole sembari memegang tangan Michele
 " It's Okay Cole, cinta memang tidak ada yang tau kapan akan datang, dan juga tidak ada yang salah. Aku menyayangimu Cole." jawab Michele lirih sambil memberikan cincin yang ada di tangan kiri jari manisnya.
 " Aku pergi dulu, kalian baik-baik ya." Kata Michele sambil tertawa.
Cole dan Gita menatap punggung Michele, yang semakin menjauh. Lalu mereka saling menatap, dan berpelukan sambil memasuki hati masing-masing.  
   

0 comments:

Post a Comment