Minggu cerah, saat kedua
orangtuaku mengajak pergi ke gereja. Saat itu, aku yang menggunakan terusan
jingga, dengan bersemangat masuk gereja digandeng kedua orangtuaku. Kami duduk
di bangku terdepan. Misa dimulai tepat pukul 8 pagi itu. Dan dari dalam sakristi
keluar putra-putri altar dan seorang pastor lengkap dengan jubah dan pakaian
khas untuk misa. Dan saat itu, aku melihat anak laki-laki kecil kira-kira satu
tahun lebih tua dariku, mungkin 11 tahun, entahlah! Tapi saat itu, aku mulai
suka melihatnya, senyumnya, dan matanya. Aku tak tahu, rasa apa itu, tapi aku
membiarkan semuanya berjalan, mengalir. Dan sejak itu, aku mulai bersemangat
saat hari Minggu, duduk di bangku depan, dan berharap dialah yang menjadi salah
satu putra altar.
Sudah lama aku membiarkannya
terus begitu, tidak tahu harus bagaimana, tidak tahu apa-apa tentang rasa yang
kualami. Hanya sekedar senang melihat, dan menyukai senyumnya. Itu saja.
Waktu terasa cepat, saat aku
sudah menjadi seorang pelajar SMP. Aku mulai aktif di gereja, dan mengikuti
organisasi remaja gereja, aku menjadi salah satu putri altar juga. Aku ingat
saat itu Minggu siang, saat aku dan semua teman-temanku berkumpul untuk latihan
tugas misa Natal. Ternyata, latihan pertamaku itu juga diisi perkenalan. Dan
saat itu, saat dia maju dengan gaya khasnya. Aku hanya tersenyum saat
melihatnya. Dia memperkenalkan diri, namanya Runa. Aneh memang, tapi aku suka.
Banyak kegiatan gereja yang aku
ikuti, banyak pengalaman yang aku dapat. Tentang Runa? Aku sekarang tau dia,
cara bercandanya, kekonyolannya, semua. Aku dan Runa dekat, sebagai teman. Dan sejak
itu aku tahu aku menyukainya, tapi aku diam, aku membiarkan semuanya seperti
itu saja.
Paskah 2010 sudah dekat, kami
semua mulai latihan rutin. Saat itu, mbak Ovi salah satu kakak di gereja
bergurau dengan Runa.
“ Na, mana foto pacarmu?”
“ Huahahaha, ini mbak, cantik
yaa.”
Aku yang saat itu bergurau dengan
temanku sontak menoleh. Aku berjalan ke arah mbak Ovi dan Runa.
“ Ciee, ada apaa nih, rame
banget?” Tanyaku
“ Ini, Runa punya pacar baru,
lihat nih fotonya”. Jawab mbak Ovi bersemangat
“ Manaa? Lihaat dongg!”. Jawabku
sok antusias
“ Cantik gak?” tanya Runa,
pipinya merona
“ Wiiihh, cantik bangeett! ,
Selamat yaa”. Kataku sambil menelan ludah yang terasa sangat pahit saat itu.
Sore itu aku diam, kejadian siang
tadi melayang-layang. Aku tak tahu harus bagaimana, aku bingung, aku sakit,
tapi apa hakku? Dia hanya teman bukan lebih, atau mungkin tidak akan pernah
lebih. Aku mencoba mengurangi segala kegiatan gereja, karena setiap melihatnya
dekat, tetapi tidak akan mungkin teraih, dadaku sesak. Entah mengapa, tapi aku
merasa bodoh.
Tahun berganti, aku dan Runa
tetap dekat, tapi aku tak pernah sekalipun menanyakan gadis cantiknya itu, akan
sangat menyakitkan jika aku tahu mereka dekat. Jujur, aku merasa nyaman saat
disampingnya, saat dia mengantarku pulang, saat kami berdua bergurau di bawah
hujan. Aku ingin selamanya seperti itu, tapi aku tahu itu hanya mimpi.
Sampai pada suatu hari aku
mengetahui dia putus dari pacarnya itu, saat itu aku memasuki tahun akhir SMP,
dan Runa sudah mengenakan abu-abu putih. Aku lega. Aku bahagia. Kami semakin
dekat, dia pernah memilihku menjadi wakilnya, menggoda, mengejek dan bahkan
bisa aku rasakan kalau ia menaruh perhatian lebih padaku, bahkan mbak Etha
temanku pernah bertanya apakah Runa menyukaiku, tapi aku menjawab kalau itu
semua tidak mungkin, kami hanya teman.
Aku rasa, semua perhatiannya saat
itu hanya bercanda, sebagai teman, atau mungkin sahabat. Tetapi hari demi hari,
aku mulai merasa ada yang lebih yang di beri untuk aku. Sampai pada suatu hari,
saat pulang gereja dan aku diantar olehnya
“ Kamu punya pacar?” Tanyanya
“ Hggg, enggak, kenapa emang,
lagian aku juga males liat anak pacaran alay gitu”.
“ Hahaha, tapi mending lahh
daripada kita gini, gimana hayoo?”
“ Ah, maksudnya apa yaa?” Tanyaku
bingung
“ Ya jomblo gini, gak enak kan?
Aku sekarang lagi deket sama anak, namanya Tika dia cantik banget, sempurna dah
pokoknya”.
“ Kenapa gak jadian aja?”
“ Masih ada yang ngganjel sih,
ntar deh gampang.”
“ Waaah, kelamaan, udah cepetan!”
Sore itu, aku mengingat saat
turun dari boncengannya dan mengucapkan terimakasih, aku tersenyum manis
padanya, saat melihat matanya tersenyum aku mencoba mencari kebahagiaan disana,
aku tersenyum sampai punggungnya hilang di pandanganku. Setelah itu, dadaku
sesak, air mata memaksa keluar, aku merasa ada yang hilang, ada yang mencabut
paksa entah apa yang ternanam sangat dalam di dada. Aku mencari tahu tentang
Tika, dan benar dia cantik sempurna. Petang itu aku menangis, entah mengapa
semua terasa sakit.
Setelah kejadian itu, aku mencoba
menjauh aku menghindar, setiap smsnya kuhapus, ini memang tidak mudah, tetapi
aku harus. Saat itu, bahkan aku berjalan tepat di depannya, dan pura-pura tidak
mengenalnya, dia menatapku terus dengan wajah bingung. Aku tahu itu, dan aku
tertekan, aneh rasanya saat kita harus menjauhi orang yang benar-benar kita
sayang.
Dan sekarang, waktu mengubahnya
kembali, aku dan Runa dekat lagi, kami bertengkar, bergurau seperti dahulu, ia
sempat menanyakan perubahan sikapku saat itu, tapi aku menanggapinya dengan
bercanda. Dia bahkan memintaku membantunya untuk mengurus adik-adik kami yang
baru masuk putra-putri altar.
Sekarang, ada kebiasaan barunya,
dia suka menyentil dahiku, mungkin hanya itu tetapi itu cukup membuatku senang.
Aku tidak berani menanyakan kedekatannya dengan siapapun, aku tidak peduli. Aku
percaya, kalau rasa ini suatu saat akan menyatukan kami, entah kapan, tapi ya,
aku yakin.
0 comments:
Post a Comment